Oleh: Rossa Patria Nanda, Apt
Hipertensi atau yang sering juga disebut tekanan darah tinggi adalah keadaan dimana tekanan sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolic ≥90 mmHg . Faktor risiko dari hipertensi dibedakan menjadi 2 yaitu :
- Risiko yang tidak dapat dimodifikasi, diantaranya umur, jenis kelamin dan faktor genetik
- Risiko yang dapat dimodifikasi, yaitu kegemukan ( obesitas) , merokok, kurang aktivitas fisik , diet tinggi lemak, konsumsi garam berlebihan, dislipidemia, konsumsi alkohol berlebih, psikososial dan stres.
Hipertensi kadang tidak bergejala hingga mendaptkan julukan the silent killer. Hal ini dikarenakan tanpa disadari oleh penderita, hipertensi telah menyebar memberikan komplikasi penyakit lain yang menyebabkan kematian. Namun pada beberapa penderita ada yang merasakan gejala hipertensi. Apa saja kah gejala hipertensi pada umumnya?
- Sakit kepala dan pusing
- Jantung berdebar-debar
- Rasa sakit di dada
- Gelisah
- Penglihatan kabur
- Mudah lelah.
Bila seseorang telah mengalami berbagai gejala hipertensi atau tekanan darah sudah tidak normal (tekanan darah normal berada pada 120/80 mmHg), maka kendalikan hipertensi dengan PATUH:
- P : Periksa Kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter. Datanglah secara rutin ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan kesehatan kita sebagai bentuk pencegahan terhadap penyakit salah satunya seperti hipertensi. Ikuti anjuran Kesehatan yang di berikan oleh dokter. Sampaikan keluhan yang di rasakan agar penderita mendapatkan obat dan penganan yang tepat.
- A: Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur. Masih banyak penderita yang tidak patuh dalam pengobatan hipertensi. Pengobatan hipertensi sebaiknya diminum secara rutin dan kontrol minimal 1 bulan sekali untuk mengetahui kemungkinan adanya reaksi efek samping obat yang didapat atau dikonsumsi sesuai dengan resep dokter. Beberapa orang mungkin masih mempertanyakan apakah minum obat hipertensi merusak ginjal, atau menyebabkan penyakit ginjal. Selain itu, ada juga yang beranggapan jika tensi menunjukkan angka normal, maka tidak membutuhkan obat hipertensi lagi. Hal tersebut adalah sebuah kekeliruan, karena obat hipertensi dibutuhkan sepanjang orang itu memiliki riwayat darah tinggi untuk mengontrol kadar tekanan darah serta kemungkinan nilai tekanan darah normal tersebut dikarenakan masih adanya efek dari obat yang diminum penderita.
Penderita hipertensi yang menghentikan pengobatan hipertensi tanpa melakukan konsultasi kepada dokter terlebih dahulu akan meningkatkan kompikasi yang kemungkinan terjadi, seperti ginjal , penyakit jantung, stroke, retinopati (kerusakan retina), penakit pembuluh darah tei, gangguan saraf dan gangguan serebral (otak). Maka yang perlu diketahui oleh masyarakat benefit yang didapat bila minum obat hipertensi akan lebih besar dari pada penderita hipertensi menghindari terapi obat. Selain itu untuk para penderita hipertensi berhati hatilah dengan membeli obat bebas karna kemungkinan adanya kontraindikasi dan efek samping terhadap penderita hipertensi, tanyakan kepada apoteker yang aman untuk penderita hipertensi. - T: tepat diet dengan gizi seimbang. Aturan pola makan yang dianjurkan adalah Gula (batasi konsumsi gula kurang dari 50 gram (4 sdm per hari). Garam (batasi garam < 5 gram (1 sendok teh) per hari. Kurangi garam saat memasak. Batasi makanan olahan dan cepat saji. Protein dan lemak (batasi daging berlemak dan minyak goreng (< 5 sendok makana perhari), makan ikan setidaknya 3 kali perminggu. Buah buahan dan sayur (5 porsi 400-500 gram) per hari (1 porsi setara dengan 1 buah jeruk, apel, manga, pisang atau 3 sendok makan sayur yang sudah dimasak).
- U: upayakan aktifitas fisik dengan aman. Lakukan perilaku hiup sehat dan melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit perhari
- H: hindari asap rokok , alkohol dan zat karsiogenik lainnya.
Sumber :
1. Kemenkes RI. 2021. “Mengenal Hipertensi”, (Online), (https://upk.kemkes.go.id/new/mengenal-penyakit-hipertensi, diakses 10 Juni 2024).
2. P2PTM Kemenkes RI. 2020. “Hipertensi Tekanan Darah Tinggi The Silent Killer”, (Online) (https://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/VHcrbkVobjRzUDN3UCs4eUJ0dVBndz09/2019/01/Leaflet_PDF_15_x_15_cm_Hipertensi_Tekanan_Darah_Tinggi.pdf, diakses 10 Juni 2024)