Pusat Layanan Kesehatan Universitas Airlangga

Kanker Serviks

Oleh: Shafa Safira Robbani, dr (Dokter Umum PLK Unair)

Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan keganasan yang berasal dari sel epitel serviks, yaitu bagian bawah rahim yang menghubungkan uterus dengan vagina. Penyakit ini sebagian besar disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi, terutama tipe HPV-16 dan HPV-18, yang berperan dalam proses perubahan sel normal menjadi sel prakanker hingga kanker invasif (WHO, 2023). Infeksi HPV merupakan infeksi menular seksual yang paling umum di dunia, dan hampir seluruh kasus kanker serviks berhubungan dengan infeksi HPV persisten dalam jangka panjang (CDC, 2024).

Epidemiologi
Secara global, kanker serviks merupakan kanker terbanyak keempat pada perempuan dengan estimasi 660.000 kasus baru dan sekitar 350.000 kematian setiap tahun, terutama terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah akibat keterbatasan skrining dan vaksinasi HPV (WHO, 2023).

Di Indonesia, kanker serviks merupakan kanker terbanyak kedua pada perempuan setelah kanker payudara, dengan estimasi lebih dari 36.000 kasus baru dan sekitar 21.000 kematian setiap tahunnya. Sebagian besar kasus ditemukan pada stadium lanjut, sehingga angka kesintasan relatif rendah dibandingkan negara maju (Kementerian Kesehatan RI, 2023).

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi HPV onkogenik yang menetap, terutama tipe 16 dan 18, yang menyebabkan perubahan genetik pada sel epitel serviks hingga berkembang menjadi kanker invasif (WHO, 2023).

Faktor risiko yang meningkatkan kejadian kanker serviks meliputi hubungan seksual pada usia dini, berganti-ganti pasangan seksual, merokok, infeksi menular seksual lain seperti HIV, penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang, serta kondisi imunosupresi yang menurunkan kemampuan tubuh membersihkan infeksi HPV (Singh, 2023).

Cara Penularan
Virus HPV ditularkan melalui kontak seksual, termasuk hubungan vaginal, anal, oral, serta kontak kulit ke kulit di area genital. Penularan tidak memerlukan penetrasi dan dapat terjadi meskipun individu yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala (CDC, 2024). Infeksi HPV umumnya bersifat sementara dan dapat sembuh sendiri, namun infeksi persisten dapat berkembang menjadi lesi prakanker dan kanker serviks dalam waktu 10–20 tahun (WHO, 2023).

Gejala Klinis
Pada stadium awal, kanker serviks sering kali tidak menimbulkan gejala, sehingga banyak penderita tidak menyadari penyakitnya (PAHO, 2023). Seiring perkembangan penyakit, gejala yang dapat muncul antara lain perdarahan pervaginam abnormal (di luar siklus haid, setelah berhubungan seksual, atau pascamenopause), keputihan berbau atau bercampur darah, nyeri panggul, nyeri saat berhubungan seksual, serta penurunan berat badan dan kelelahan pada stadium lanjut (Kementerian Kesehatan RI, 2023).

Diagnosis
Diagnosis kanker serviks ditegakkan melalui kombinasi pemeriksaan klinis dan penunjang. Pemeriksaan skrining meliputi Pap smear, tes HPV, atau IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)** untuk mendeteksi perubahan prakanker pada serviks (WHO, 2023).

Apabila hasil skrining menunjukkan kelainan, dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa kolposkop dan biopsi serviks untuk memastikan diagnosis histopatologis kanker serviks (Bhatla et al., 2018).

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kanker serviks bergantung pada stadium penyakit, usia pasien, dan kondisi klinis. Terapi yang dapat dilakukan meliputi pembedahan (konisasi atau histerektomi), radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi dari metode tersebut (National Cancer Institute, 2024). Pada stadium awal, angka kesembuhan kanker serviks cukup tinggi apabila ditangani secara optimal. Namun, jika tidak diobati, kanker serviks dapat menyebar ke jaringan sekitar dan organ jauh, menyebabkan komplikasi berat hingga kematian (CDC, 2024).

Pencegahan
Pencegahan kanker serviks dilakukan melalui vaksinasi HPV dan skrining rutin. Vaksin HPV terbukti efektif mencegah infeksi HPV risiko tinggi dan direkomendasikan diberikan pada anak perempuan usia 9–14 tahun sebelum aktif secara seksual (WHO, 2023).

Skrining rutin seperti Pap smear, tes HPV, atau IVA sangat penting untuk mendeteksi lesi prakanker sehingga dapat ditangani sebelum berkembang menjadi kanker invasif (PAHO, 2023). Selain itu, perilaku seksual aman, berhenti merokok, dan peningkatan akses layanan kesehatan berperan penting dalam menurunkan angka kejadian kanker serviks (Singh, 2023).

Kesimpulan
Kanker serviks merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius namun dapat dicegah dan diobati melalui vaksinasi HPV dan deteksi dini. Upaya pengendalian kanker serviks memerlukan pendekatan komprehensif berupa edukasi masyarakat, penguatan program skrining, serta penghapusan stigma terhadap pemeriksaan kesehatan reproduksi perempuan (WHO, 2023).

Daftar Pustaka

Bhatla, N., Aoki, D., Sharma, D. N., & Sankaranarayanan, R. (2018). Cancer of the cervix
uteri. International Journal of Gynecology & Obstetrics, 143(S2), 22–36.
https://doi.org/10.1002/ijgo.12611

CDC. (2024). Cervical Cancer: Causes, Screening, and Prevention. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/cancer/cervical

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Beban Kanker di Indonesia dan Upaya
Pengendalian Kanker Serviks. https://www.kemkes.go.id

National Cancer Institute. (2024). Cervical Cancer Treatment (PDQ®). https://www.cancer.gov

PAHO. (2023). Cervical Cancer. Pan American Health Organization. https://www.paho.org

Singh, D., Vignat, J., Lorenzoni, V., Eslahi, M., Ginsburg, O., Lauby-Secretan, B., Arbyn, M., Basu, P., Bray, F., & Vaccarella, S. (2023). Global estimates of incidence and mortality of cervical cancer in 2020: a baseline analysis of the WHO Global Cervical Cancer Elimination Initiative. The Lancet. Global health, 11(2), e197–e206. https://doi.org/10.1016/S2214-109X(22)00501-0

WHO. (2023). Cervical cancer. World Health Organization. https://www.who.int

Kampus B

Klinik PLK-UA Kampus B UNAIR

Jl. Dharmawangsa No.3, Airlangga, Kec. Gubeng, Surabaya, Jawa Timur

Kampus C

Klinik PLK-UA Kampus C UNAIR

Jl. Mulyorejo No.162, Mulyorejo, Kec. Mulyorejo, Surabaya, Jawa Timur

Scroll to Top
Menu Aksesibilitas
Saturasi Rendah (Monokrom)
Perbesar Teks
Kontras Tinggi
Font Terbaca
Ramah Disleksia
Kursor Besar
Jarak Karakter
Tinggi Baris
Rata Tengah
Sembunyikan Gambar